Sabtu, 10 Januari 2015

Tugas Arsitektur Lingkungan 7

Konsep Pembangunan Kota 

Berwawasan Lingkungan




Konsep Pembangunan Berwawasan Lingkungan adalah suatu upaya terencana dalam menggunakan dan mengelola sumber daya secara bijaksana guna meningkatkan kualitas hidup.Maka pembangunan itu harus memperhatikan lingkungan sejak mulai pembangunan di rencanakan sampai pada waktu operasi pembangunan. 

Ciri-ciri Pembangunan Berwawasan Lingkungan : 1) Pembangunan dilaksanakan berdasarkan nilai kemanusian. 2) Pembangunan yang memperhatikan lingkungan fisik (ramah lingkungan) alam dan lingkungan sosial. 3) Pembangunan yang mencerminkan usaha peningkatan produksi nasional berupa tingkat laju pertumbuhan ekonomi yang positif. 4) Pembangunan yang dapat memperluas kesempatan kerja untuk menampung masuknya golongan usia kerja baru dalam kehidupan ekonomi. 5) Pembangunan yang bertujuan menuju pemerataan atau keseimbangan pendapatan antar golongan dan antar daerah6) Pembangunan yang memiliki usaha terus menerus menjaga stabilitas ekonomi dan sosial, budaya, politik, dan keamanan 

Tujuan Dan Prinsip Pembangunan Berwawasan Lingkungan ini bertujuan membangun kualitas SDM yang mampu menyelaraskan tanggung jawab moral dengan strategi pembangunan berwawasan lingkungan. Prinsip pembangunan berwawasan lingkungan adalah pendayagunaan sumber daya alam sebagai pokok kemakmuran rakyat yang dilakukan secara terencana, bertanggungjawab, dan sesuai daya dukungnya dengan mengutamakan sebesar-besarnya kemakmuran rakyat serta memperhatikan kelestarian fungsi dan keseimbangan lingkungan hidup bagi pembangunan berkelanjutan (sustainable).

Alasan Munculnya Pembangunan Berwawasan LingkunganMenurut J. Barros dan J.M. Johnston dalam , menyebutkan bahwa munculnya pembangunan berwawasan lingkungan erat kaitannya dengan aktivitas pembangunan yang dilakukan manusia, antara lain: 
1. Kegiatan-kegiatan Industri 
2. Kegiatan Pertambangan 
3. Kegiatan Transportasi 
4. Kegiatan Pertanian 

Kesimpulannya Jadi, Pembangunan berwawasan lingkungan adalah pembangunan berkelanjutan yang mengoptimalkan manfaat sumber daya alam dan sumber daya manusia dengan cara menserasikan aktivitas manusia dengan kemampuan sumber daya alam untuk menopangnya. 



sumber : http://www.slideshare.net/khadijahakdputriyaroto/konsep-pembangunan-berwawasan-lingkungan

Selasa, 06 Januari 2015

Tugas Arsitektur & Lingkungan 6

KONSTRUKSI BERKELANJUTAN 

( RAMAH LINGKUNGAN )


Konstruksi berkelanjutan adalah suatu konsep yang ditawarkan oleh pelaku di industri konstruksi untuk menjawab tantangan akan kebutuhan pembangunan berkelanjutan (sustainable development) di sektor infrastruktur dan konstruksi. Pembangunan berkelanjutan sendiri merupakan konsep pembangunan yang ditujukan untuk menyediakan kualitas kehidupan yang lebih baik untuk semua orang saat ini dan untuk generasi mendatang. Pembangunan berkelanjutan mencakup tiga aspek pembangunan, yaitu sosial, ekonomi dan lingkungan. 


Dalam implementasinya, pembangunan berkelanjutan sering ditekankan pada pencapaian aspek pelestarian lingkungan dengan pertimbangan aspek ekonomi dan sosial telah terpenuhi secara umum, pendekatan ini sering diistilahkan dengan ‘hijau’ atau ‘green’. Tantangan-tantangan yang dihadapi setiap negara berbeda tergantung sejauh mana negara tersebut telah berkembang. Untuk Negara yang sedang berkembang seperti Indonesia, aspek sosial dan ekonomi tetap memegang peranan penting. Untuk itu pembangunan berkelanjutan yang dilakukan di Indonesia, adalah pembangunan yang digerakkan untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi dan kemapanan sosial namun tetap ramah terhadap lingkungan sekitarnya. 


Konstruksi berkelanjutan adalah sebuah strategi untuk melaksanakan pembangunan berkelanjutan pada industri konstruksi dan infrastruktur. Industri konstruksi mempunyai peran dalam mensukseskan pembangunan berkelanjutan dengan membangun kualitas hidup yang lebih baik dan dengan lebih kompetitif serta menguntungkan, menyajikan kepuasan, kenyamanan, dan nilai lebih untuk pemilik dan pengguna, melindungi lingkungan, serta meminimalisasi penggunaan sumber daya dan energi. Dengan demikian, konstruksi berkelanjutan akan dapat menciptakan dan mengoperasikan bangunan yang ramah lingkungan dengan penggunaan sumber daya alam yang efisien dan menggunakan rancangan yang memperhatikan ekologi. Dalam hal ini industri konstruksi harus dilihat sebagai sebuah sistem yang terdiri dari berbagai proses yang saling terkait mulai dari proses pemrograman, perencanaan, perancangan, pelaksanaan konstruksi, dan pemanfaatan, pemeliharaan, serta dekonstruksi dengan banyak pihak yang terkait (rantai pasok) antara lain pemilik, pengguna dan penyedia jasa. 


sumber :  http://103.12.84.196:81/sikbi/Pages/KonstruksiBerkelanjutan/KB/Definisi.aspx

Tugas Arsitektur & Lingkungan 5

ARSITEKTUR BIOLOGIS



Arsitektur Biologis Kontemporer

Beberapa tahun terakhir, isu pemanasan global menjadi masalah kritis yang semakin disadari oleh banyak manusia di muka bumi. Tidak seimbangnya ekosistem alam, gejala cuaca ekstrem yang semin sulit diprediksi, dan bencana alam dalam berbagai skala dan fenomena mulai menjadi pembahasan hangat di setiap negara. Para pemimpin bangsa di berbagai belahan dunia pun berkumpul untuk membahas masalah pemanasan global ini, sebab bumi ini adalah tempat tinggal manusia bersama, sehingga penyelesaiannya pun harus dilakukan bersama-sama. Selain itu, berbagai komunitas dan lembaga swadaya masyarakat yang peduli akan lingkungan menjamur di mana-mana. Mereka membuat gerakan sadar lingkungan.
Salah satu upaya yang dapat ditempuh untuk meningkatkan kualitas lingkungan hidup adalah dengan menciptakan bangunan yang ramah lingkungan, baik dari segi rancang bangun (desain) maupun material bangunannya . Saat ini bukan waktunya untuk berlomba-lomba membuat bangunan pencakar langit, tetapi lebih dari itu, kita juga perlu memikirkan bangunan yang ramah dengan alam lingkungan, sehingga tercipta keseimbangan alam yang harmonis.

Dalam arsitektur dikenal istilah arsitektur biologis, yaitu pengetahuan tentang hubungan integral antara manusia dan lingkungan hidup. Istilah arsitektur biologis diperkenalkan oleh beberapa ahli bangunan, antara lain Prof. Mag.arch, Peter Schmid, Rudolf Doernach dan Ir. Heinz Frick. Sebenarnya, arsitektur biologis bukan merupakan hal yang baru, sebab sejak ribuan tahun yang lalu nenek moyang kita telah menerapkan konsep dasar dari arsitektur biologis ini, yaitu dengan membangun rumah adat (tradisional) menggunakan bahan-bahan yang diambil dari alam sehingga tidak mencemari lingkungan dan mempertimbangkan rancang bagun yang dapat tahan dengan segala macam ancaman alam, seperti hewan buas dan bencana seperti banjir, longsor, gempa, dan lain-lain. Rumah adat yang berbentuk rumah panggung adalah contoh dari arsitektur biologis masyarakat Indonesia zaman dahulu. Pada peristiwa gempa di Padang tahun lalu, rumah adat ini terbukti lebih kokoh dibanding dengan rumah atau bangunan lain, karena bobotnya yang ringan, terbuat dari bambu dan kayu.

Di era modern seperti sekarang, menggunakan arsitektur biologis bukan tidak mungkin, apalagi di saat kondisi bumi mengalami perubahan drastis yang disebabkan pemanasan global. Namun, tentu kita tidak harus membangun bangunan yang sama persis dengan rumah adat, karena kondisi lingkungan saat ini tidak lagi memungkinkan kita untuk membuatnya. Yang mungkin kita lakukan adalah dengan mencoba membuat rancang bangun rumah yang efisien akan sumber daya (seperti listrik) tanpa mengurangi kenyaman bagi penghuni rumah itu sendiri. Selain itu, pentingnya pendekatan ekologis seperti ramah lingkungan, ikut menjaga kelangsungan ekosistem, menggunakan energi yang efisien, memanfaatan sumber daya alam yang tidak dapat diperbarui secara efisien, menekanan penggunaan sumber daya alam yang dapat diperbarui dengan daur ulang dalam membangun lingkungan akan turut meningkatkan kualitas lingkungan hidup. Hal ini menjadi konsep arsitektur biologis saat ini menjadi lebih kontemporer.

Para ahli bangunan dan desainer interior telah banyak memberikan saran dalam pembangunan rumah ramah lingkungan, misalnya pendapat Yeang, seorang ahli bangunan Cina yang menerapkan integrasi kondisi ekologi, yang dilalakukan dengan tiga cara, yaitu pertama, integrasi fisik dengan karakter fisik ekologi setempat, meliputi keadaan tanah, topografi, air tanah, vegetasi, iklim dan sebagainya. Kedua, integrasi sistim-sistim dengan proses alam, meliputi: cara penggunaan air, pengolahan dan pembuangan limbah cair, sistimpembuangan dari bangunan dan pelepasan panas dari bangunan dan sebagainya. Ketiga, integrasi penggunaan sumber daya yang mencakup penggunaan sumber daya alam yang berkelanjutan (Yeang, 2006).

Dewasa ini, mulai banyak rimah-rumah yang membuat panel tenaga surya untuk membantu memnuhi kebutuhan listrik di rumah, jadi tidak hanya bergantung pada sumber daya listrik pemerintah yang menggunakan bahan bakar yang tidak terbaharui. Selain itu, penanaman taman di atap (roof garden) dan membuat lubang resapan di halamn rumah juga membantu dalam mengurangi risiko polutan yang terserap dan bencana banjir. Hal yang juga penting untuk dilakukan adalah menggunakan barang-barang kayu (meubel) yang telah bersertifikat, sebagai tanda material pembuat meubel tersebut adalah bukan dari hasil pembalakan liar. Kita pun perlu meningkatkan kesaran masyarakat akan hal ini, sebab di negara-negara maju seperti Amerika, kesadaran untuk memakai bahan bangunan dan perabot yang legal telah digalakkan secara optimal.
Tujuan perancangan arsitektur melalui pendekatan arsitektur adalah upaya ikut menjaga keselarasan bangunan rancangan manusia dengan alam untuk jangka waktu yang panjang. Keselarasan ini tercapai melalui kaitan dan kesatuan antara kondisi alam, waktu, ruang dan kegiatan manusia yang menuntut perkembangan teknologi yang mempertimbangkan nilai-nilai ekologi, dan merupakan suatu upaya yang berkelanjutan untuk meningkatkan kualitas lingkungan hidup.
 
 
 
sumber : http://fportfolio.petra.ac.id/user_files/82008/TEK%201%20Pendekatan%20ekologi%20wanda%20UKP.pdf 
 http://hendriologi.blogspot.com/2010/11/arsitektur-biologis-kontemporer.html

Senin, 17 November 2014

Tugas Arsitektur & Lingkungan 4

ISU/POTENSI ALAMI MENJADI MODAL POKOK PERENCANAAN DAN PERANCANGAN ARSITEKTUR BERKELANJUTAN



LATAR BELAKANG

       Seperti yang kita ketahui, Sumber Daya Alam yang kita miliki adalah terbatas jumlahnya. Dan pembangunan semakin semarak kini baik pembangunan infrastruktur maupun perumahan untuk memenuhi kebutuhan manusia. Selain itu, semaraknya Global Warming semakin terasa kini cuaca tak menentu dan tidak dapat dipastikan. Bangunan merupakan penyaring faktor alamiah penyebab ketidaknyamanan, seperti hujan, terik matahari, angin kencang, dan udara panas tropis, agar tidak masuk ke dalam bangunan. Udara luar yang panas dimodifikasi bangunan dengan bantuan AC menjadi udara dingin. Dalam hal ini dibutuhkan energi listrik untuk menggerakkan mesin AC. Demikian juga halnya bagi penerangan malam hari atau ketika langit mendung, diperlukan energi listrik untuk lampu penerang.


PEMBAHASAN

       Penghematan energi melalui rancangan bangunan mengarah pada penghematan penggunaan listrik, baik bagi pendinginan udara, penerangan buatan, maupun peralatan listrik lain. Dengan strategi perancangan tertentu, bangunan dapat memodifikasi iklim luar yang tidak nyaman menjadi iklim ruang yang nyaman tanpa banyak mengonsumsi energi listrik. Kebutuhan energi per kapita dan nasional dapat ditekan jika secara nasional bangunan dirancang dengan konsep hemat energi. Hal inilah yang menuntut seorang arsite untuk membuka jalan untuk dapat mengatasi permasalahan tersebut dengan inovasi-inovasi terbaru. Para arsitek di Barat memulai langkah merancang bangunan hemat energi sejak krisis energi tahun 1973, sementara hingga kini-30 tahun sejak krisis energi di negara Barat-belum juga muncul pemikiran ke arah itu di kalangan arsitek Indonesia. Karena rancangan arsitek merupakan media yang memberi dampaksecara langsung terhadap lingkungan. Hal inilah yang memunculkan konsep yang berwawasan lingkungan yaitu Eko-Arsitektur yang sebagai bentuk kepedulian. Pola perencanaan Eko-arsitektur suatu bangunan selalu memanfaatkan peredaran alam sebagai berikut.
Perancangan bangunan dapat dilakukan dengan dua cara: secara pasif dan aktif.


APA YANG DIMAKSUD DENGAN PERANCANGAN PASIF ?

       Perancangan pasif merupakan cara penghematan energi melalui pemanfaatan energi matahari secara pasif, yaitu tanpa mengonversikan energi matahari menjadi energi listrik. Rancangan pasif lebih mengandalkan kemampuan arsitek bagaimana rancangan bangunan dengan sendirinya mampu “mengantisipasi” permasalahan iklim luar.

        Perancangan pasif di wilayah tropis basah seperti Indonesia umumnya dilakukan untuk mengupayakan bagaimana pemanasan bangunan karena radiasi matahari dapat dicegah, tanpa harus mengorbankan kebutuhan penerangan alami. Sinar matahari yang terdiri atas cahaya dan panas hanya akan dimanfaatkan komponen cahayanya dan menepis panasnya.

        Strategi perancangan bangunan secara pasif di Indonesia bisa dijumpai terutama pada bangunan lama karya Silaban: Masjid Istiqal dan Bank Indonesia; karya Sujudi: Kedutaan Prancis di Jakarta dan Gedung Departemen Pendidikan Nasional Pusat; serta sebagian besar bangunan kolonial karya arsitek-arsitek Belanda. Meskipun demikian, beberapa bangunan modern di Jakarta juga tampak diselesaikan dengan konsep perancangan pasif, seperti halnya Gedung S Widjojo dan Wisma Dharmala Sakti, keduanya terletak di Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta.


APA YANG DIMAKSUD DENGAN PERANCANGAN AKTIF? 

       Dalam rancangan aktif, energi matahari dikonversi menjadi energi listrik sel solar, kemudian energi listrik inilah yang digunakan memenuhi kebutuhan bangunan. Dalam perancangan secara aktif, secara simultan arsitek juga harus menerapkan strategi perancangan secara pasif. Tanpa penerapan strategi perancangan pasif, penggunaan energi dalam bangunan akan tetap tinggi apabila tingkat kenyamanan termal dan visual harus dicapai.

        Strategi perancangan aktif dalam bangunan dengan sel solar belum dijumpai di Indonesia saat ini. Penggunaan sel solar masih terbatas pada kebutuhan terbatas bagi penerangan di desa-desa terpencil Indonesia.

        Salah satu bangunan yang dianggap paling berhasil menerapkan teknik perancangan pasif dan aktif secara simultan dan sangat berhasil dalam mengeksploitasi penggunaan sel solar adalah bangunan paviliun Inggris (British pavillion). Bangunan ini dirancang Nicholas Grimshaw & Partner, arsitek yang juga merancang Waterloo International Railway Station yang menghubungkan Inggris dengan Perancis melalui jalur bawah laut. Paviliun Inggris ini dibangun di kompleks Expo 1992 di kota Seville, Spanyol, sebagai perwujudan hasil sayembara tahun 1989 yang dimenangi arsitek tersebut.

        Langkah merancang bangunan hemat energi baik secara pasif maupun aktif seperti di atas perlu dicermati. Sudah waktunya para arsitek Indonesia memulainya. Jika dalam waktu dekat Indonesia menjadi negara pengimpor minyak neto dan harga BBM dan tarif listrik dalam negeri melambung, sebagian besar bangunan yang boros energi tidak lagi dapat berfungsi. Pemakai bangunan akan menemui kesulitan menanggung biaya listrik untuk lift, AC, pompa, dan peralatan lain, yang tinggi. Masih ada waktu untuk menghindari situasi buruk semacam ini dengan memulai merancang bangunan yang hemat energi, hemat listrik, sejak sekarang.
"Bahan bangunan yang digunakan untuk sebuah proyek pembangunan merupakan prioritas utama yang perlu diperhatikan apabila Kesalahan desain dan kesalahan memilah bahan bangunan yang berakibat boros energy akan berdampak terhadap biaya operasional bangunan tersebut dan efeknya juga akan mengganggu pengguna/manusia dan lingkungannya."

Tugas Arsitektur & Lingkungan 3

CONTOH BANGUNAN EKO-ARSITEKTUR



        Building and Construction Academy (BCA) telah memberi contoh bagaimana sebuah bangunan bisa disebut hijau (green). BCA membangun kembali gedungnya yang disebut BCA Academy hingga menjadi sebuah kompleks bangunan yang disebut zero energy building (ZEP) atau bangunan nol energi.
Disebut nol energi karena bangunan yang dirancang oleh DP Architect itu memproduksi energi untuk keperluan sehari-hari dengan menggunakan panel tenaga matahari. BCA Academy juga memanfaatkan kekayaan alam semaksimal mungkin.
Selain menggunakan tenaga matahari sebagai sumber energi, mereka juga menampung air hujan untuk digunakan sebagai toilet. Hampir tidak ada sisi gedung yang tidak terkena sinar matahari sehingga menghemat penggunaan listrik untuk penerangan, terutama di siang hari.
Dibandingkan dengan gedung-gedung dengan kapasitas serupa, penggunaan energi di BCA Academy jauh lebih hemat. Berdasarkan tarif listrik 21,69 sen per kwh, bangunan ini berhasil menghemat pengeluaran hingga 84.000 dollar Singapura per tahun.
Sejumlah fitur menarik dari bangunan seluas 4.500 meter persegi itu antara lain sistem peneduh yang ditempatkan secara strategis sehingga bangunan terlindung dari terik matahari, namun interior bangunan tetap mendapat cahaya alami.
Di negara tropis, penggunaan energi listrik terbesar adalah untuk air conditioner. Para arsitek BCA menyiasati tingginya temperatur dengan tanaman rambat yang ditanam secara vertikal. Ada dua manfaat sekaligus dengan sistem ini, yaitu dinding terlindung dari paparan langsung sinar matahari sekaligus untuk menurunkan temperatur dalam ruangan.
 
         
 ANALISIS BANGUNAN :

1. Bangunan ini menggunakan panel surya dalam sistem penggunaan kebutuhan listrik, panel surya bekerja dengan menyerap sinar matahari pada siang hari lalu menyimpan dan mengubahnya menjadi energi listrik. Penggunaan panel surya ini diyakini lebih menghemat pengeluaran biaya listrik.

2. Penggunaan air pada bangunan ini memanfaatkan air hujan yang telah ditampung lalu digunaan dalam toilet untuk digunakan pada toilet, dengan cara ini penggunaan air untuk air kotor/limbah mampu diminimalisir.

3. Bangunan ini didesain dengan memaksimalkan orientasi nya agar setiap sisi dari bangunan terkena cahaya matahari dimana hal ini mampu menghemat penggunaan lampu.

4. Walaupun tiap sisi bangunannya terkena cahaya matahari namun bangunan tidak terkena secara langsung terik matahari dikarenakan adanya sistem peneduh yang ditempatkan secara strategis.\

5. Untuk menyiasati iklim tropis yang memiliki temperatur tinggi digunakanlah tanaman rambat yang ditanam secara vertikal guna melindungi dinding dari sinar matahari serta menurunkan temperatur dalam ruangan

Tugas Arsitektur & Lingkungan 2



BANGUNAN HEMAT ENERGI



Pendahuluan
           
            Bangunan hemat energi atau biasa disebut dengan arsitektur hijau adalah adalah sebuah pendekatan untuk membangun dengan meminimalkan efek yang berbahaya pada kesehatan manusia dan lingkungan. Arsitek atau desainer “hijau” berupaya untuk menjaga udara, air, dan bumi dengan memilih bahan bangunan dan praktek pembangunan yang ramah lingkungan.
Properti yang ramah lingkungan kini tidak sekadar kebutuhan manusia. Lebih dari itu, properti yang ”hijau” dan hemat energi telah menjadi tren global yang mempercepat pergerakan roda industri properti, sekaligus simbol kemajuan teknologi
Efisiensi, kemudahan, mobilitas tinggi, serba instan atau apapun namanya merupakan bagian dari kehidupan urban. Sebuah gaya hidup yang paling diminati oleh sebagian besar orang sebagai manusia modern. Pola hidup urban dianggap dapat mendatangkan keuntungan lebih besar dari segi material, maka dari itu orang berbondong-bondong memadati perkotaan.

Prinsip dasar arsitektir hijau

1. Hemat energi / Conserving energy : Pengoperasian bangunan harus meminimalkan penggunaan bahan bakar atau energi listrik ( sebisa mungkin memaksimalkan energi alam sekitar lokasi bangunan ).
2. Memperhatikan kondisi iklim / Working with climate : Mendisain bagunan harus berdasarkan iklim yang berlaku di lokasi tapak kita, dan sumber energi yang ada.
3. Minimizing new resources : mendisain dengan mengoptimalkan kebutuhan sumberdaya alam yang baru, agar sumberdaya tersebut tidak habis dan dapat digunakan di masa mendatang /
Penggunaan material bangunan yang tidak berbahaya bagi ekosistem dan sumber daya alam.
4. Tidak berdampak negative bagi kesehatan dan kenyamanan penghuni bangunan tersebut / Respect for site : Bangunan yang akan dibangun, nantinya jangan sampai merusak kondisi tapak aslinya, sehingga jika nanti bangunan itu sudah tidak terpakai, tapak aslinya masih ada dan tidak berubah.( tidak merusak lingkungan yang ada ).
5. Merespon keadaan tapak dari bangunan / Respect for user : Dalam merancang bangunan harus memperhatikan semua pengguna bangunan dan memenuhi semua kebutuhannya.
6. Menetapkan seluruh prinsip – prinsip green architecture secara keseluruhan: Ketentuan diatas tidak baku, artinya dapat kita pergunakan sesuai kebutuhan bangunan kita. 


Disini untuk menggunakan bangunan Hemat energi bisa menggunakan Jenis Bahan-bahannya,yaitu:
  1. Semen, keramik, batu bata, aluminium, kaca, dan baja sebagai bahan baku utama dalam pembuatan sebuah bangunan berperan penting dalam mewujudkan konsep bangunan ramah lingkungan. 
  2. Kerangka bangunan utama dan atap, sekarang material kayu sudah mulai digantikan material baja ringan. illegal logging akibat pembabatan kayu hutan yang tak terkendali menempatkan bangunan berbahan kayu mulai berkurang .
    Baja ringan dapat dipilih berdasarkan beberapa tingkatan kualitas tergantung dari bahan bakunya. Rangka atap dari baja memiliki keunggulan yaitu lebih kuat, antikarat, antikeropos, antirayap, lentur, mudah dipasang, dan lebih ringan sehingga tidak membebani konstruksi dan fondasi, serta dapat dipasang dengan perhitungan desain arsitektur dan kalkulasi teknik sipil.
  3. Kusen jendela dan pintu juga sudah mulai menggunakan bahan aluminium sebagai generasi bahan bangunan masa datang. Aluminium memiliki keunggulan dapat didaur ulang (digunakan ulang), bebas racun dan zat pemicu kanker, bebas perawatan dan praktis (sesuai gaya hidup modern), dengan desain khusus mengurangi transmisi panas dan bising (hemat energi, hemat biaya), lebih kuat, tahan lama, antikarat, tidak perlu diganti sama sekali hanya karet pengganjal saja, tersedia beragam warna, bentuk, dan ukuran dengan tekstur variasi (klasik, kayu).
  4. Bahan dinding dipilih yang mampu menyerap panas matahari dengan baik. Batu bata alami atau fabrikasi batu bata ringan (campuran pasir, kapur, semen, dan bahan lain) memiliki karakteristik tahan api, kuat terhadap tekanan tinggi, daya serap air rendah, kedap suara, dan menyerap panas matahari secara signifikan.
  5. Penggunaan keramik pada dinding menggeser wallpaper merupakan salah satu bentuk inovasi desain. Dinding keramik memberikan kemudahan dalam perawatan, pembersihan dinding (tidak perlu dicat ulang, cukup dilap), motif beragam dengan warna pilihan eksklusif dan elegan, serta menyuguhkan suasana ruang yang bervariasi.
    Fungsi setiap ruang dalam rumah berbeda-beda sehingga membuat desain dan bahan lantai menjadi beragam, seperti marmer, granit, keramik, teraso, dan parquet. Merangkai lantai tidak selalu membutuhkan bahan yang mahal untuk tampil artistik.
  6. Konsep ramah lingkungan juga telah merambah ke dunia sanitasi. Septic tank dengan penyaring biologis (biological filter septic tank)berbahan fiberglass dirancang dengan teknologi khusus untuk tidak mencemari lingkungan, memiliki sistem penguraian secara bertahap, dilengkapi dengan sistem desinfektan, hemat lahan, antibocor atau tidak rembes, tahan korosi, pemasangan mudah dan cepat, serta tidak membutuhkan perawatan khusus..
  7. Penggunaan panel sel surya meringankan kebutuhan energi listrik bangunan dan memberikan keuntungan tidak perlu takut kebakaran, hubungan pendek (korsleting), bebas polusi, hemat listrik, hemat biaya listrik, dan rendah perawatan. Panel sel surya diletakkan di atas atap, berada tepat pada jalur sinar matahari dari timur ke barat dengan posisi miring. Kapasitas panel sel surya harus terus ditingkatkan sehingga kelak dapat memenuhi kebutuhan energi listrik setiap bangunan.

Senin, 29 September 2014

Permasalahan Arsitektur dengan Lingkungan

Longsor Puncak Akibat Alih Fungsi Lahan




Pendahuluan

   Sekarang ini jika kita mau  pergi ke Bandung dan melewati kawasan Puncak, mungkin kita tidak lagi melihat rindangnya pepohonan. Tidak lagi melihat perkebunan atau persawahan. Yang lebih sering kita lihat adalah perumahan-perumahan atau vila yang dijadikan penginapan. Vila dan perumahan tersebut kebanyakan dibangun di daerah resapan air. Makin banyak pembangunan didaerah resapan air, makin banyak permukaan tanah yang tertutup oleh jalan, dan beton. Laju resapan air pun menurun serta dapat membuat kesolidan tanah berkurang. Hal ini mengakibatkan berbagai masalah yang dihadapi entah itu berkurangnya kualitas air didaerah tersebut ataupun mengakibatkan rawannya terjadi longsor. Berikut adalah artikel yang membahas tentang masalah kegiatan arsitektural dengan lingkungannya. 



TEMPO.CO, Cianjur - Longsor di Puncak, Cianjur, Jawa Barat, diduga terjadi akibat resapan air berkurang. Akar masalahnya adalah alih fungsi lahan yang tidak jelas. Tebing yang longsor menutupi jalan akses Puncak adalah bagian dari tembok setinggi 20 meter milik The Villas Mountain Resort di Jalan Raya Puncak, Ciloto.

Eko Wiwid, Koordinator Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Simpul Bogor Depok Puncak Cianjur, mengatakan, pembangunan vila di Puncak sudah tidak terkendali. Akibatnya, bangunan yang dibangun di kawasan konservasi mengganggu resapan air.

"Selain resapan air, ekologi kawasan konservasi juga terganggu. Ini akibat peraturan dilanggar karena penegakannya tidak jelas. Kawasan Puncak rusak, seperti kejadian longsor tersebut," kata Eko di Cianjur, Kamis 10 Januari 2013.

Eko menambahkan, peristiwa longsor seperti itu hanya tinggal menunggu waktu. Sebab, lingkungan di kawasan Puncak sejak dulu dirusak tanpa bisa dikendalikan.

"Mereka yang membangun vila adalah orang-orang berduit dan berkuasa sehingga segala urusan aturan bisa dilanggar. Bencana seperti ini seperti bom waktu, rakyat kecil yang kena imbasnya," imbuh Eko.

Akibat longsor, Jalan Raya Puncak sampai saat ini masih ditutup. Proses pengerukan material longsor masih terus dilakukan. "Sampai sekarang pengerjaan pengerukan belum selesai, jadi kawasan ini masih ditutup. Untuk sementara baru bisa dilewati sepeda motor dengan sistem buka-tutup satu jalur," kata Kepala Satuan Lalu lintas Kepolisian Resor Cianjur, Ajun Komisaris Sudewo.


Dari artikel diatas dapat ditarik kesimpulan dan solusi dari permasalahan tersebut.


Pembangunan vila di daerah resapan air dapat menurunkan kualitas air karena mengurangi daerah resapan air dan juga membuat susunan tanah menjadi renggang. Penurunan kualitas air dapat merugikan masyarakat. Masyarakat mengeluarkan biaya lebih untuk memenuhi kebutuhan air. Salah satu upaya yang dapat dilakukan adalah menambah kawasan resapan air, penambahan ruang terbuka hijau pada daerah perkotaan dan meningkatkan kesadaran masyarakat akan arti pentingnya fungsi kelestarian sungai dan sumberdaya alamnya. Selain itu upaya ini juga dapat digunakan untuk menghindari rawannya bencana longsor didaerah tersebut. Dalam mengatasi dampak negatif dari pembangunan vila ini seharusnya pemerintah dan masyarakat bekerja sama melakukan penanggulangan penurunan kualitas air. Pemerintah juga seharusnya mampu memberlakukan sanksi yang tegas bagi para pihak pemilik vila yang menyalahi aturan dan membatasi pembangunan vila didaerah puncak.

Sumber Artikel : http://www.tempo.co/read/news/2013/01/11/058453801/Walhi-Longsor-Puncak-Akibat-Alih-Fungsi-Lahan